Seorang Pemimpin
Setelah Rasulullah Saw. wafat, Mu'adz bin Jabal kembali dari Yaman ke Madinah. Ia mendengar bahwa kaum Muslimin sedang berseteru dengan pasukan Romawi di perbatasan Syam. Maka ia pun segera berangkat dari Madinah menuju Syam, semoga lebih akrab dengan medan peperangan. Sekaligus membantu sobat Abi Ubaidah bin Jarrah dalam menghadapi tentara musuh.Selepas wafatnya Abu Bakar ash-shiddiq, Mu'adz bin Jabal mengirimkan surat kepada Umar bin Khatab. Dalam isi surat tersebut ia menyatakan bersedia membaiatnya, menggantikan Abu Bakar.
![]() |
| Kisah Islami |
Mu'adz bin Jabal juga menasehati Umar semoga selalu bertakwa kepada Allah SWT. dan memimpinumat islam dengan penuh keadilan. Umar pun mendapatkan surat dan nasehat Mu'adz dengan penuh keterbukaan. Kemudian Umar membalas isi surat itu, "tidak baik bagi kau bila kamutidak menyampaikan kebenaran, dan tidak baik bagi kamibila kami tidak mendapatkan kebenaran itu."
Pada suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin Khattab memerintahkan menawarkan hadiah sebanyak 400 dinarkepada Mu'adz bin Jabal, "Berikan ini kepada Mu'adz dan tunggu serta lihatlah apa yang akan ia lakukan dengan hadiah ini," ucap Umar bin Khattab.
Ketika sang utusan menawarkan hadiah tersebut, ia melihat apa yang dilakukan Mu'adz bin Jabal dengan hadiah ini. Setelah Mu'adz mendapatkan hadiah, ia memanggil anak buahnya sembari berkata, "Ambilah ini dan berikan kepada fulan, dan ini untuk fulan, dan ini juga untuk si fulan," kemudian tiba-tiba istrinya Mu'adz keluar dan berkata, "Demi Allah, kami yaitu orang miskin," Mu'adz tidak menyisakan hadiah tersebut kecuali dua dinar, yang diberikan pribadi kepada istrinya.
![]() |
| Cerita Islami untuk anak |
Rasulullah Saw. sangat mengasihi Mu'adz bin Jabal, sehingga dia berwasiat kepadanya, "Wahai Mu'adz bin Jabal, Aku wasiatkan kepadamu sesuatu yang sanggup kau jadikan pegangan untuk hidupmu. Bertakwalah kepada Allah SWT., janganlah kau menyekutukannya dengan selain Dia. Apabila berkata, maka bicaralah yang baik dan benar. Apabila kau berjanji, maka tepatilah jangan kau melanggarnya. Apabila kau diberi amanah, maka jagalah amanah itu. Jauhi sifat khianat, alasannya khianat itu akan mencelakakanmu."
Lanjut Rasulullah, "Sayangilah anak yatim, berilah mereka jikalau kau bisa dan rawatlah mereka. Jagalah keharmonisan rumah tanggamu, dan berbuat sepakat terhadap tetanggamu. Apabila ada sesuatu yang akan membuatmu marah, maka tahanlah kemarahanmu. Bicaralah dengan siapapun dengan sopan. Ucapkanlah salam apabila bertemu dengan siapapun. Jadilah kau orang yang beriman, janganlah kau menjadi orang kafir."
Lanjut Rasulullah, "Al-Qur'an yaitu kitab Allah, maka pahamilah oleh mu. cintailah akhirat, alasannya darul abadi itu kekal, jangan kau mengasihi dunia yang hanya sesaat. Takutlah kau terhadap hisab, alasannya apa yang kau miliki dan kau perbuat akan diperhitungkan. Kurangilah angan-anan dan banyaklah berbuat. Ingatlah Allah disetiap Ciptaan-Nya. Dan, bertobatlah kau dari setiap berbuat dosa."
![]() |
| Kisah Islami bergambar |
Sungguh sobat Nabi satu ini yaitu seorang pendekar Islam yang tangguh. Hidupnya mementingkan dunia. Ia yaitu sahabat Nabi dari kaum Anshar yang turut membantu mengumpulkan Al-Qur'an bersama para sobat Nabi yang lain, menyerupai Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka'ab, dan Abu Zaid.
Rasulullah bersabda, "Ambilah Al-Qur'an dari empat sobat yaitu Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Ubay bin Ka'ab, dan Salim, Maula Abi Hudzaifah."
Mu'adz bin Jabal wafat
Suatu ketika, Mu'adz bin Jabal jatuh sakit. Sakitnya, kian hari semakin bertambah parah. Dalam kondisi menyerupai ini, ia tetap bersabar dan tidak mengeluh sedikitpun. Ia mensyukuri atas ujian yang telah Allah berikan.Pada ketika ia merasa bahwa waktunya semakin dekat, ia mengangkat tangannya keatas untuk berdoa kepada Allah SWT., "Wahai Allah, Sesungguhnya saya takut kepada-Mu. Akan tetapi, hari ini saya menaruh penharapan kepada-Mu," kemudian Mu'adz bin Jabal pun menangis.
![]() |
| Mu'adz bin Jabal Wafat |
Orang-orang yang disekitarnya pun bertanya, "Apakah yang mengakibatkan kau menagis, wahai Mu'adz. Sementara kau yaitu sahabat Rasulullah Saw. yang mulia?"
Mu'adz pun menjawab, "Aku tidak murung menangisi ajal yang akan menghampiriku, dan tidak pula murung meninggalkan hutang kepada orang setelahku. Tetapi saya menangisi nasibku kelak diakhirat, dimana saya akan ditempatkan sehabis saya meninggal. Apakah saya akan ditempatkan bersama penghuni surga, atau penghuni neraka. Dan, saya tidak tahu dimanakah saya akan ditempatkan."




No comments:
Post a Comment